Proses Penjurian

January 4th, 2007 by arethe

Kasus gugatan penggiat dan kritikus film terhadap dewan juri FFI ( Festival
Film Indonesia) memunculkan pertanyaan dalam benak saya. Mengenai proses
penjurian. Penjurian terhadap kompetisi tertentu.Seperti karya tulis, karya
ilmiah atau Film. Sebenarnya bagaimana membuat kriteria penjurian yang benar? Proses
penjurian seperti apa yang dapat meminilmasir konflik atau ketidak puasan?

Karena, harus diakui, bagaimanapun juri lomba memiliki persfektif yang
sangat subyektif terhadap suatu karya. Dalam benak mereka sebenarnya sudah
tertanam keyakinan tentang suatu karya yang hendak mereka nilai. Bila ada karya
dari peserta lomba yang sesuai dengan persfektif mereka, kecenderungan untuk
memenangkan mereka tentu sangat besar. Dan saya lihat kasus subyektifitas
penilaian terhadap suatu karya sangat besar di Indonesia. Saya tidak tahu,
bagaimana negara yang lebih maju membuat suatu kriteria penjurian. Terhadap
bidang apapun.

Contoh kasus yang mungkin sering saya lihat adalah proses kompetisi menulis
di kalangan wartawan. Hal ini sering dilontarkan
oleh Merry. Karena memang, pada kenyataan, kompetisi tulis-menulis dikalangan
jurnalistik memiliki kecenderungan subyektifitas sangat tinggi. Tulisan yang
menyenangkan vendor atau operator dianggap memiliki kecedenderungan untuk
menang. Walau, beberapa penyelenggara kompetisi, meminimalisir hal ini dengan
menarik fihak luar yang dianggap pakar dalam bidangnya. Seperti yang dilakukan
oleh XL. Namun, tetap saja, keberadaan dewan juri yang dianggap pakar ini
memiliki kecenderungan subyektifitas sangat tinggi. 3 atau 4 orang menjadi
”dewa” yang dapat memutuskan baik atau buruknya suatu karya. Saya bukannya antipati
terhadap proses seperti ini. Tetapi, saya berfikir proses penjurian terhadap
suatu karya yang hanya melibatkan sedikit orang memiliki bias yang sangat
tinggi.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Sepertinya dewan juri harus melibatkan
kerumunan orang yang lebih banyak . Melibatkan lebih banyak orang dari beragam
persfektif. Misalnya 50 orang jurnalis dari beragam media dan 50 orang pembaca menjadi
juri bagi kompetisi menulis antar media. Atau  50 orang sineas/kritikus dan 50 orang penikmat
film menjadi juri FFI. Mungkin itu dapat meminimalisir konflik atau ketidak
puasan. Dan juga meminimalisir bias subyektifitas dalam melakukan penilaian
terhadap suatu karya.

 


Rumi Tentang Warna Agama

June 4th, 2006 by arethe

Rasul pernah berkata, “Ada orang-orang yang melihatku
di dalam cahaya yang sama seperti aku melihat mereka.
Kami adalah satu.

Walau tak terhubung oleh tali apapun,
walau tak menghafal buku dan kebiasaan,
kami meminum air kehidupan bersama-sama.”

Inilah sebuah kisah
tentang misteri yang tersimpan:

Sekelompok Tiongkok mengajak sekelompok Yunani
bertengkar tentang siapa dari mereka
adalah pelukis yang terhebat.
Lalu raja berkata, “Kita buktikan ini dengan debat.”

Tiongkok memulai perdebatan.
Tapi Yunani hanya diam, mereka tak suka perdebatan.

Tiongkok lalu meminta dua ruangan
untuk membuktikan kehebatan lukisan mereka,
dua ruang yang saling menghadap
terpisah hanya oleh tirai.

Tiongkok meminta pada raja
beberapa ratus warna lagi, dengan segala jenisnya.
Maka setiap pagi, mereka pergi
ke tempat penyimpanan pewarna kain
dan mengambil semua yang ada.

Yunani tidak menggunakan warna,
“warna bukanlah lukisan kami.”
Masuklah mereka ke ruangannya
lalu mulai membersihkan dan menggosok dindingnya.
Setiap hari, setiap saat, mereka membuat
dinding-dindingnya lebih bersih lagi,
seperti bersihnya langit yang terbuka.

Ada sebuah jalan yang membawa semua warna
menjadi ‘warna tak lagi ada’. Ketahuilah,
seindah-indahnya berbagai jenis warna
di awan dan langit, semua berasal dari
sempurnanya kesederhanaan matahari dan bulan.

Tiongkok telah selesai, dan mereka sangat bangga
tambur ditabuh dalam kesenangan
dengan selesainya lukisan agung mereka.
Waktu raja memasuki ruangan, terpana dia
karena keindahan warna dan seluk-beluknya.

Lalu Yunani menarik tirai yang memisahkan ruangan mereka.
Dan tampaklah bayangan lukisan Tiongkok dan semua pelukisnya
berkilauan terpantul pada dindingnya yang kini bagaikan cermin bening,
seakan mereka hidup di dalam dinding itu.
Bahkan lebih indah lagi, karena
tampaknya mereka selalu berubah warna.

Seni lukis Yunani itulah jalan sufi.
Jangan hanya mempelajarinya dari buku.

Mereka membuat cintanya bening, dan lebih bening.
Tanpa hasrat, tanpa amarah. Dalam kebeningan itu
mereka menerima dan memantulkan kembali
lukisan dari setiap potong waktu,
dari dunia ini, dari gemintang, dari tirai penghalang.

Mereka mengambil jalan itu ke dalam dirinya,
sebagaimana mereka melihat
melalui beningnya Cahaya
yang juga sedang melihat mereka semua.

“Chinese Art and Greek Art”


From: Mathnawi, I, 3462-3485, 3499
Adapted from Nicholson’s translation of the Mathnawi, IV, 2683-2696, by Coleman Barks,
Essential Rumi, Maulana Jalalludin Rumi, translated by Coleman Barks. Indonesian translation of this poem by Herry Mardian.(http://suluk.blogsome.com)

Anyway

June 4th, 2006 by arethe
       

People are often unreasonable, illogical and self-centered;
Forgive them anyway.

If you are kind,
people may accuse you of selfish, ulterior motives;
Be kind anyway.

If you are successful,
you will win some false friends and some true enemies;
Succeed anyway.

If you are honest and sincere,
people may deceive you;
Be honest and sincere anyway.

What you spend years creating,
others could destroy overnight;
Create anyway.

If you find serenity and happiness,
some may be jealous;
Be happy anyway.

The good you do today,
people will often forget tomorrow;
Do good anyway.

Give the best you have,
and it might never be enough;
Give your best anyway.

You see, in the final analysis.
it is between you and God;
It is never between you and them anyway.

: : : : : : :

These words were written on the wall in Mother Teresa’s orphanage home for children in Calcutta. The source is unknown.

Diambil dari: http://suluk.blogsome.com

Surat Presiden Iran ke George W. Bush

May 14th, 2006 by arethe

Dibawah ini surat Mahmud Ahmadi Nejad (presiden
Iran) ke George W. Bush (presiden Amerika Serikat) yang telah di translate ke
bahasa Indonesia. Bila ingin melihat aslinya (dalam bahasa Inggris) bisa buka
Wikipedia:


http://en.wikisource.org/wiki/Mahmoud_Ahmadinejad%27s_letter_to_George_W._Bush_%288_May_2006%29

……………………………………………………………………………………………………………………………………

Tuan George. W. Bush
Presiden Amerika Serikat…


Dalam beberapa waktu Saya sempat berpikir, bagaimana bisa kontradiksi yang tidak dapat diingkari dalam kancah dunia internasional ini, di mana masyarakat dan
pada khususnya di kalangan politik dan mahasiswa, dapat di benarkan. Banyak
sekali pertanyaan-pertanyaan tentang hal ini yang tak terjawab. Karena itu saya
kemudian memutuskan agar sebagian dari kontradiksi dan pertanyaan-pertanyaan
itu bisa saya tanyakan. Mungkin akan ada kesempatan untuk membenarkan masalah
tersebut.

Apakah bisa; pengikut Nabi Isa A.S. sebagai salah satu Nabi besar ilahi dapat
berpegang teguh dengan hak-hak asasi manusia dengan menjadikan Liberalisme
sebagai model peradaban dengan memperluas persenjataan nuklir dan pembunuhan
massal untuk menunjukkan ketidaksetujuannya dan menjadikan peperangan melawan
terorisme sebagai slogannya?

Pada
akhirnya, untuk membentuk masyarakat yang satu dan universal tetap harus diusahakan.
Sebuah masyarakat yang akan diperintah oleh Nabi Isa A.S.dan orang-orang baik
di muka bumi.

Namun pada saat yang sama; Negara-negara diserang. Jiwa, kehormatan, keberadaan
orang-orang dan nilai-nilai kemudian runtuh. Sebagai contoh, hanya dikarenakan
adanya sebuah kemungkinan keberadaan beberapa orang pelaku kriminal di sebuah
desa, kota atau bersama sebuah iring-iringan, seluruh desa, kota dan
iring-iringan harus dibabat habis.

Atau dengan kemungkinan keberadaan senjata pemusnah massal di sebuah negeri lalu
negeri tersebut dikuasai? Sekitar ratusan ribu masyarakat negara itu harus
tewas. Sumber-sumber air, pertanian dan industri rusak dan sekitar 180.000
pasukan militer tinggal di sana.

Kehormatan yang dimiliki oleh rumah-rumah masyarakat telah dihancurkan dan mungkin
sekitar lebih dari 50 tahun sebuah negara menjadi terkebelakang. Dengan
anggaran belanja seperti apa? Dengan menghabiskan miliaran dolar dari harta
kekayaan sebuah negara dan sebagian negara yang lain atau dengan mengirimkan
puluhan ribu pemuda sebagai pasukan penyerang. Meletakkan mereka di tempat
pembunuhan serta menjauhkan mereka dari keluarganya, mengotori tangan mereka
dengan darah orang lain, menekan jiwa mereka sehingga setiap hari sejumlah dari
mereka melakukan tindakan bunuh diri. Ketika mereka kembali ke negara mereka
masing-masing tersiksa dan tertekan di sertai dengan penyakit yang beragam.
Sebagian lainnya telah terbunuh dan jenazah mereka telah diterima oleh keluarga
mereka.

Hanya dengan alasan adanya senjata pemusnah massal, sebuah tragedi besar telah tercipta baik untuk masyarakat yang negaranya dijajah atau penjajah.
Sementara pada akhirnya jelas bahwa senjata pemusnah massal tidak pernah ada.

Namun tetap saja bahwa Saddam Husein adalah seorang diktator dan pembunuh. Namun
tujuan peperangan yang dilakukan bukan untuk menumbangkannya tapi usaha untuk
menemukan senjata pembunuh massal yang sudah diumumkan sebelumnya. Saddam dalam
rangkaian ini telah tumbang. Masyarakat sekitarnya merasa senang dengan
tumbangnya Saddam. Pada peperangan yang dipaksakan kepada Iran, Saddam di bantu
dan dibela oleh Barat.

Tuan Presiden…


Mungkin Anda telah tahu bahwa saya hanya seorang dosen. Mahasiswa saya sering mempertanyakan bagaimana aksi-aksi yang ada ini disesuaikan dengan nilai-nilai yang telah disampaikan di awal surat saya dengan agama Nabi Isa A.S. seorang Nabi perdamaian dan kasih sayang?

Mereka yang tertuduh dan dipenjara Guantanamo yang tidak bakal diadili secara adil, tidak memiliki akses untuk mendapat pembelaan dari seorang pengacara. Keluarga mereka tidak diperkenankan untuk melihat mereka dan di luar dari negaranya sendiri diisolir sementara tidak ada pengawasan internasional
untuk mereka. Tidak jelas posisi mereka; apakah mereka adalah dipenjara, tawanan perang, tertuduh ataukah orang-orang yang telah dihukum?

Para pengawas Uni Eropa mengakui adanya penjara-penjara misterius di Eropa. Saya tidak dapat menerima penculikan dan penahanan orang-orang di penjara-penjara misterius itu tanpa adanya sebuah sistem peradilan yang berlaku di dunia. Dan saya tidak pernah mengerti bagaimana aksi-aksi yang telah dilakukan sesuai dengan nilai-nilai yang telah saya sebutkan di atas. Dengan ajaran-ajaran Nabi Isa A.S. ataukah hak-hak asasi manusia ataukah dengan nilai-nilai Liberalisme?

Para pemuda, mahasiswa dan masyarakat banyak mempertanyakan tentang fenomena bernama Israel. Pasti sebagian dari pertanyaan-pertanyaan itu telah
Anda dengar. Dalam sejarah tercatat banyak negara yang telah dijajah. Namun salah satu fenomena kontemporer masa kita adalah sebuah pembentukan negara baru
dengan masyarakat yang baru pula.

Para mahasiswa berkata, 60 tahun yang lalu tidak pernah ada negara dengan nama ini. Dokumen-dokumen dan peta geografi dunia yang lama ditunjukkan oleh mereka
sambil berkata, kami telah berusaha sedemikian rupa mencarinya namun kami tidak menemukan sebuah negara yang bernama Israel.

Saya terpaksa menuntun mereka agar mempelajari lagi tentang perang dunia pertama dan kedua. Sekali waktu seorang mahasiswa berkata, pada perang dunia kedua puluhan juta manusia tewas. Berita-berita perang dengan cepat disebarkan dari kedua belah pihak yang berperang. Masing-masing memberitakan kemenangannya
dan kekalahan lawan. Setelah perang dunia kedua selesai mereka mengklaim bahwa
ada enam juta orang Yahudi tewas. Enam juta orang yang sekurang-kurangnya dari
dua juta kepala keluarga.

Kita andaikan saja bahwa berita ini benar. Apakah kesimpulan logisnya adalah pembentukan sebuah negara Israel di kawasan Timur Tengah dan atau
membela mereka habis-habisan? Bagaimana menganalisa dan menginterpretasikan fenomena
semacam ini?

Tuan Presiden…


Anda pasti telah mengetahui dengan anggaran belanja dan pesan-pesan yang seperti apa sehingga Israel terbentuk; Dengan terbantainya ribuan jiwa. Dengan mengungsikan jutaan jiwa penduduk asli kawasan. Dengan penghancuran
ratusan ribu hektar sawah, kebun zaitun dan penghancuran kota-kota dan tanah-tanah subur.Tragedi ini tidak hanya terbatas pada masa
pembentukan saja. Sangat disayangkan selama 60 tahun hal ini berjalan dan akan
terus berlanjut.


Rezim yang dibentuk ini bahkan tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap anak-anak. Rumah-rumah dihancurkan, rencana teror tokoh-tokoh Palestina dengan terlebih dahulu mengumumkannya serta memenjarakan ribuan orang-orang Palestina. Fenomena ini pada abad-abad terakhir bila tidak
dikatakan sulit dicari tandingannya maka tentunya tidak ada bandingannya.

Pertanyaan besar lainnya dari kebanyakan masyarakat adalah ini. Mengapa rezim yang seperti ini masih harus dibela?

Apakah pembelaan rezim yang semacam ini merupakan salah satu ajaran Nabi Isa A.S. atau sesuai dengan nilai-nilai Liberalisme?

Dan apakah memberikan hak untuk menentukan nasib sendiri di tanah Palestina kepada pemilik aslinya baik yang tinggal di Palestina maupun di luar
dan baik mereka itu Islam, Yahudi dan atau Kristen, bertentangan dengan demokrasi, hak-hak asasi manusia dan ajaran-ajaran para Nabi?

Bila tidak bertentangan mengapa usulan referendum tidak pernah disetujui?

Akhirnya dengan pilihan rakyat Palestina telah terbentuk pemerintahan di tanah Palestina. Semua pengawas yang tidak memihak mengukuhkan bahwa pemerintah terpilih dipilih oleh rakyat. Dengan tanpa disangka pemerintah terpilih ditekan sedemikian rupa agar menerima negara bernama Israel dan tidak lagi meneruskan perjuangan serta melanjutkan program pemerintah sebelumnya.

Seandainya pemerintah terpilih saat ini sejak awal mengumumkan kebijakannya seperti yang diinginkan, apakah masyarakat Palestina akan memilih
mereka? Apakah sikap yang semacam ini di hadapan pemerintah Palestina sesuai dengan
nilai-nilai di atas? Demikian pula masyarakat bertanya-tanya, mengapa resolusi
PBB yang telah diputuskan di dewan keamanan PBB terhadap Israel selalu diveto?

Tuan Presiden…


Anda mengetahui bahwa saya hidup bersama rakyat dan punya hubungan dengan mereka.
Kebanyakan dari masyarakat Timur Tengah, yang dengan berbagai bentuk, melakukan
hubungan dengan saya. Mereka melihat kebijakan ganda yang ada ini tidak sesuai
dengan logika apapun. Bukti-bukti menunjukkan bagaimana kebanyakan masyarakat di kawasan dari hari ke hari semakin marah dengan
kebijakan yang dilakukan.

Saya tidak bermaksud untuk menyampaikan banyak pertanyaan, namun saya ingin menunjukkan beberapa poin yang lain.

Mengapa setiap kemajuan keilmuan dan teknologi di kawasan Timur Tengah dianggap dan di promosikan sebagai ancaman terhadap rezim Israel? Apakah usaha ilmiah dan penelitian bukan merupakan hak-hak dasar masyarakat?

Kemungkinan Anda memiliki pengetahuan tentang sejarah. Selain abad pertengahan pada bagian mana dari sejarah dan di mana, kemajuan ilmu dan teknologi dianggap sebagai sebuah kejahatan? Apakah dengan mengandaikan kemungkinan dipakainya ilmu dan teknologi untuk maksud-maksud militer dapat menjadi alasan untuk menentang ilmu dan teknologi? Bila kesimpulan yang demikian
adalah benar, maka seluruh ilmu harus ditentang bahkan fisika, kimia, matematika, kedokteran, arsitektur dan lain-lain.

Dalam masalah Irak telah terjadi kebohongan. Hasilnya apa? Saya tidak ragu bahwa semua manusia meyakini bahwa kebohongan adalah hal yang tidak terpuji. Anda sendiri tidak akan senang bila orang lain berdusta terhadap Anda.

Tuan Presiden…


Apakah masyarakat di Amerika Latin memiliki hak untuk mempertanyakan mengapa selalu ada usaha untuk tidak menyetujui pemerintahan terpilih dari
rakyat dan pada saat yang sama adanya pembelaan bagi mereka yang ingin
melakukan kudeta terhadap pemerintahan terpilih. Mengapa ancaman selalu
diarahkan kepada mereka?

Masyarakat Afrika adalah masyarakat yang punya etos kerja, kreatif dan memiliki potensi. Mereka dapat berperan penting dalam menjamin kebutuhan dan kemajuan materi dan maknawi masyarakat dunia. Kemiskinan dan
kepapaan di sebagian besar Afrika menjadi kendala terbesar untuk dapat
memainkan peran penting tersebut.

Apakah mereka berhak untuk mempertanyakan, mengapa kekayaan luar biasa dan barang
tambang mereka dijarah padahal mereka lebih membutuhkan dari orang lain? Apakah
aksi-aksi semacam ini sesuai dengan ajaran Nabi Isa dan hak-hak asasi manusia?

Masyarakat Iran yang berani dan beriman juga memiliki banyak pertanyaan. Salah satunya; Kudeta 28 Murdad terhadap pemerintahan waktu itu pada lima puluh dua tahun yang lalu, berhadap-hadapan dengan revolusi Islam dan menjadikan kedutaan Amerika menjadi markas besar, dengan memiliki ribuan dokumen, yang membela mereka yang tidak setuju dengan Republik Islam, melindungi Saddam Husein dalam perang terhadap Iran, penembakan pesawat penumpang Iran, menyandera harta masyarakat Iran, ancaman-ancaman yang semakin meningkat dengan menunjukkan ketidaksetujuan serta kemarahan atas kemajuan ilmu dan teknologi serta nuklir masyarakat Iran, padahal semua orang Iran gembira dengan kemajuan negara mereka dan mengadakan acara
untuk keberhasilan mereka. Masih banyak lagi pertanyaan yang semacam ini dan untuk
menjelaskannya di surat ini tidak saya cantumkan.

Tuan Presiden…


Peristiwa 11 September benar-benar merupakan peristiwa yang mengerikan. Pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di bagian mana saja dari dunia ini selalu menyakitkan dan sangat disayangkan. Pemerintah kami pada waktu itu mengumumkan rasa kebencian terhadap pelaku kejadian dan sekaligus mengucapkan belasungkawa kepada mereka yang ditinggalkan.

Semua negara memiliki kewajiban untuk melindungi jiwa, harta dan kehormatan  rakyatnya. Seperti yang dikatakan bahwa negara Anda memiliki sistem keamanan,
penjagaan dan informasi yang luas dan canggih. Bahkan para penentang yang berada di luar negeri pun diburu. Operasi 11 September bukan operasi yang mudah. Apakah konsep dan pelaksanaan operasi tersebut dapat bekerja tanpa kerja sama dengan sistem informasi dan keamanan dan atau pengaruh yang luas di sana dapat terjadi? Tentunya ini hanya sebuah kemungkinan
dari orang-orang yang berpikiran logis. Mengapa sisi-sisi lain dari kejadian ini tetap misterius? Mengapa tidak ada penjelasan resmi bahwa siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian ini? Dan mengapa para pelaku dan mereka yang lalai tidak diumumkan dan dihukum?

Tuan Presiden…


Salah satu kewajiban pemerintah adalah mewujudkan keamanan dan ketenangan kepada
rakyatnya. Masyarakat negara Anda dan negara-negara tetangga poros krisis dunia
selama bertahun-tahun tidak lagi merasakan keamanan dan ketenangan.

Setelah peristiwa 11 September bukannya meredam jiwa dan menenangkan mereka yang terkena musibah. Masyarakat Amerika adalah yang paling menderita akibat
kejadian tersebut sementara sebagian dari media Barat malah membesar-besarkan kondisi tidak aman dan senantiasa mengabarkan adanya kemungkinan serangan teroris dan mereka sengaja menjaga agar masyarakat senantiasa dalam kondisi takut dan khawatir. Apakah ini namanya melayani rakyat Amerika? Apakah kerugian yang berasal dari ketakutan dan kekhawatiran dapat dihitung?

Coba
gambarkan! Rakyat Amerika merasa bakal ada serangan. Di jalanan, tempat kerja dan di rumah mereka merasa tidak aman. Siapa yang dapat menerima kondisi
seperti ini? Mengapa media bukannya memberitakan hal-hal yang dapat menenangkan
dan memberikan keamanan malah mengabarkan ketidakamanan?

Sebagian berkeyakinan bahwa iklan besar-besaran ini sebagai fondasi dan alasan untuk menyerang Afghanistan. Bila sudah begini kiranya baik bila saya berikan sedikit petunjuk terkait dengan media.

Dalam prinsip dasar media, penyampaian informasi yang benar dan menjaga amanat dalam menyebarkan berita adalah dasar yang manusiawi dan diterima. Saya merasa perlu untuk mengucapkan dan mengumumkan rasa penyesalan yang dalam
atas ketiadaan rasa tanggung jawab sebagian media Barat dengan kewajiban ini. Alasan asli agresi ke Irak adalah adanya senjata pemusnah massal.
Tema ini diulang-ulang sedemikian rupa sehingga masyarakat percaya dan menjadi dasar untuk menyerang Irak.

Apakah kebenaran tidak akan hilang pada situasi yang dibuat-buat dan berisi kebohongan?

Apakah hilangnya sebuah kebenaran sesuai dengan tolok ukur yang telah dijelaskan
sebelumnya?

Apakah kebenaran juga akan hilang di sisi Tuhan?

Tuan Presiden…

Di semua negara masyarakatlah yang menanggung anggaran belanja negaranya sehingga pemerintah dapat melayani mereka. Pertanyaannya di sini, dengan anggaran tahunan ratusan miliar dolar pengiriman pasukan ke Irak apa yang didapat oleh masyarakat?

Anda sendiri mengetahui bahwa di sebagian negara bagian Amerika masyarakat hidup dalam kemiskinan. Ribuan orang tidak memiliki rumah. Pengangguran adalah masalah besar dan masalah ini kurang lebih terjadi juga di negara-negara
lain. Apakah dalam kondisi yang seperti ini pengiriman sejumlah besar pasukan
dan itu pun dengan anggaran luar biasa dari masyarakat dapat dibenarkan dan
sesuai dengan dasar-dasar yang telah disebutkan sebelumnya?

Tuan Presiden…


Apa yang sudah disebutkan adalah sebagian dari penderitaan masyarakat dunia; kawasan kami dan masyarakat Anda. Namun maksud asli saya yang setidak-tidaknya akan Anda benarkan sebagai berikut:

Para penguasa memiliki masa tertentu dan tidak selamanya berkuasa. Namun nama mereka akan diingat dan tertulis dalam sejarah. Dan di masa depan, dekat atau jauh, senantiasa dinilai. Masyarakat akan berkata, dalam periode kita ini apa yang telah terjadi.

Apakah untuk masyarakat kita menyiapkan keamanan dan kesejahteraan atau
ketidakamanan dan pengangguran.

Apakah kita hendak mengukuhkan keadilan ataukah hanya kelompok khusus yang ingin
kita lindungi. Itu pun dengan harga kemiskinan dan kepapaan sebagian besar
masyarakat dunia. Apakah kita akan memilih untuk mengutamakan sekelompok kaum
minoritas dengan segala kekayaan dan pangkat dan kerelaan mereka ketimbang
kerelaan Tuhan?

Apakah kita telah membela hak-hak masyarakat dan kaum miskin ataukah kita
tidak memandang sedikit pun kepada mereka.

Apakah kita membela hak-hak manusia di seluruh dunia ataukah dengan memaksakan perang dan ikut campur secara ilegal terhadap urusan sebuah negara dan dengan mengadakan sel-sel yang menakutkan memenjarakan sebagian orang
di sana?

Apakah kita telah berbuat untuk terwujudnya perdamaian dunia ataukah kita menyebarkan ancaman dan kekerasan di seluruh dunia?

Apakah kita telah berbicara dengan jujur kepada rakyat kita dan masyarakat dunia ataukah kita malah menunjukkan kebenaran yang telah diputarbalikkan.

Apakah kita termasuk pembela masyarakat ataukah pembela para penjajah dan penzalim?

Apakah dalam pemerintahan kita, logika, akal, moral, perdamaian,mengamalkan perjanjian, menyebarkan keadilan, melayani masyarakat,
kesejahteraan dan kemajuan dan menjaga kehormatan manusia lebih dipentingkan
ataukah kekuatan persenjataan, ancaman, tidak adanya keamanan, tidak adanya
perhatian kepada masyarakat, menahan lajunya kemajuan masyarakat dunia dan
merusak hak-hak manusia?

Pada akhirnya mereka akan berkata, apakah kita masih setia dengan sumpah yang kita ucapkan dalam rangka melayani masyarakat dan perjanjian asli kita dan ajaran-ajaran para Nabi ataukah tidak?

Tuan Presiden…


Sampai kapan dunia akan menanggung beban berat ini? Dengan proses yang semacam
ini dunia akan menuju kemana? Sampai kapan masyarakat dunia harus menanggung beban keputusan-keputusan tidak benar dari para penguasa? Sampai kapan cakrawala ketakutan harus dihadapkan kepada masyarakat dunia akibat ditimbunnya senjata pemusnah massal? Sampai kapan darah anak-anak, para wanita dan laki-laki harus mengalir di atas batu-batu jalanan dan rumah-rumah mereka harus dihancurkan?

Apakah Anda rela dengan kondisi dunia sekarang ini? Apakah Anda berpikir bahwa kebijakan yang telah ada ini dapat berlangsung terus?

Bila saja ratusan miliar dolar yang dipakai untuk membiayai keamanan, pertahanan,
pengiriman pasukan dialokasikan sebagai modal dan bantuan bagi negara-negara miskin, pengembangan kebersihan, berperang melawan berbagai macam penyakit, penghijauan dan pengentasan kemiskinan dan keterbatasan, menggalang perdamaian, menghilangkan perselisihan antar negara-negara, menghilangkan peperangan kabilah dan ras dan lain-lain. Dapat dibayangkan bagaimana dunia sekarang? Dan apakah pemerintahan dan rakyat Anda tidak merasa bangga dengan ini?

Apakah posisi politik dan ekonomi pemerintahan dan rakyat Anda tidak akan
semakin kokoh?


Dengan mengucapkan rasa penyesalan penuh, saya harus mengucapkan apakah ada kenaikan tingkat kebencian masyarakat dunia terhadap pemerintah
Amerika?

Tuan Presiden, saya tidak bermaksud untuk melukai perasaan seorang pun.

Apakah bila hari ini Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Ismail, Yusuf dan atau Nabi Isa A.S. hadir di dunia ini dan dengan melihat perilaku yang semacam ini apa kata mereka? Apakah dunia yang dijanjikan, dunia yang diliputi oleh keadilan dengan kehadiran Nabi Isa A.S. akan memberikan kita peran? Apakah
mereka akan menerima kita?

Pertanyaan kunci saya di sini; Apakah jalan yang lebih baik dalam pergaulan dengan masyarakat dunia tidak ada lagi?

Hari ini di dunia ada ratusan juta orang Kristen, ratusan juta orang Islam dan jutaan lagi orang pengikut Nabi Musa A.S. Semua agama ilahi dalam satu kalimat bersatu dan itu adalah kalimat tauhid, yaitu keyakinan akan Tuhan Yang Esa dan selain Dia tidak ada tuhan di dunia ini.

Al-Quran al-Karim menegaskan akan kalimat yang satu ini dan ia memanggil semua pengikut agama ilahi dengan kalimat ini. Allah berfirman:

"Katakanlah : "Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita
sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan
tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain
dari pada Allah." (Ali Imran: 64)

Tuan Presiden…


Berdasarkan firman ilahi kita semua diajak untuk menyembah Allah Yang Esa dan mengikuti utusan-utusan ilahi.

" Penyembahan kepada Tuhan Yang Esa yang Maha kuasa dan berkuasa atas segala sesuatu", Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan
tampak, dahulu dan akan datang dan Ia mengetahui apa yang terlintas di benak hamba-Nya dan Ia mencatat amalan mereka", "Tuhan Sang pemilik langit
dan bumi dan semua alam di bawah kekuasaan-Nya", "Pengaturan seluruh alam
di tangan-Nya dan Ia memberikan janji untuk mengampuni dosa-dosa hamba-Nya",
Ia penolong mereka yang terzalimi dan musuh mereka yang menzalimi", Dia
Maha Pengasih dan Penyayang", "Ia penolong kaum mukminin dan Ia
menuntun mereka dari kegelapan kepada keterang-benderangan", "Ia
mengawasi perbuatan hamba-hamba-Nya", " Ia menyerukan hamba-Nya untuk
beriman dan berbuat baik dan menginginkan agar mereka berbuat berdasarkan
kebenaran dan untuk tetap istiqamah dalam kebenaran", " Allah
menyerukan agar hamba-hamba-Nya untuk menaati utusan-Nya dan Ia sebagai saksi
dan pengawas perbuatan hamba-hamba-Nya", "Puncak keburukan terkait
dengan orang-orang yang menginginkan kehidupan yang terbatas di dunia ini dan
tidak mengikuti perintah-Nya dan menzalimi hamba-hamba Allah", "Puncak kebaikan dan
surga yang kekal hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa di hadapan keagungan ilahi dan tidak mengikuti hawa nafsunya".

Kami yakin bahwa kembali kepada ajaran-ajaran para Nabi adalah satu-satunya jalur kebahagiaan dan kesuksesan. Saya mendengar bahwa Anda adalah
seorang penganut Kristen dan percaya akan janji ilahi akan adanya pemerintahan orang-orang
baik di muka bumi.

Kami juga percaya bahwa Nabi Isa A.S. adalah salah satu Nabi besar ilahi. Dalam al-Quran Nabi Isa mendapat penghormatan yang luar biasa dan ini adalah ucapan Nabi Isa A.S. yang dinukil oleh al-Quran:"Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus." (Maryam: 36)

Penghambaan dan ketaatan kepada Allah adalah seruan semua para Nabi. Tuhan seluruh
masyarakat di Eropa, Afrika, Amerika, dan negara-negara kepulauan, seluruh
dunia hanya satu Tuhan dan itu adalah Tuhan yang memberikan hidayah dan
menginginkan kemuliaan bagi semua hamba-hamba-Nya dan memberikan kehormatan
kepada umat manusia.

Dan dalam firman Allah: "Allah Yang Maha Mengetahui dan Tinggi mengutus
para Nabi disertai dengan tanda-tanda yang jelas dan mukjizat untuk memberi petunjuk kepada manusia. Pengutusan itu agar mereka menunjukkan tanda-tanda kebesaran
ilahi kepada manusia. Dengan begitu manusia dapat disucikan dari dosa. Allah
mengirimkan kitab dan mizan agar manusia dapat menegakkan keadilan dan dapat meninggalkan orang-orang yang berbuat zalim".

Seluruh ayat-ayat dengan bentuk yang mirip ada di kitab suci. Para Nabi dan utusan
ilahi memberikan janji: Suatu hari nanti semua manusia akan dibangkitkan di
hadapan Allah untuk diperhitungkan amal perbuatannya. Mereka yang berbuat baik
akan diantarkan ke surga. Dan mereka yang berbuat buruk akan menanggung
perbuatannya dengan menerima siksa ilahi. Saya berpikir bahwa kita berdua sama
meyakini akan hari itu.

Tentunya perhitungan para penguasa tidak akan ringan. Hal itu karena harus menjawab kepada masyarakat dan semua orang atas setiap perbuatan kita yang ada hubungannya dan memiliki dampak dalam kehidupan mereka.

Para Nabi menginginkan perdamaian, ketenangan berdasarkan prinsip-prinsip penyembahan kepada Allah, menjaga harkat dan martabat manusia bagi seluruh manusia.

Bila kita semua meyakini tauhid dan penyembahan kepada Tuhan, keadilan, menjaga harkat dan martabat serta kemuliaan manusia dan hari akhir, apakah tidak bisa menyelesaikan problema dunia sekarang yang diakibatkan oleh kejauhan dari ketaatan kepada Allah dan ajaran-ajaran para Nabi, dengan prinsip itu dengan lebih baik dan indah?

Apakah keyakinan akan prinsip-prinsip ini tidak memperluas dan menjamin perdamaian, persaudaraan dan keadilan?

Apakah prinsip-prinsip itu bukan merupakan ajaran tertulis atau tidak tertulis mayoritas masyarakat dunia?

Apakah Anda tidak ingin mengiyakan seruan ini? Kembali secara hakiki kepada  ajaran-ajaran para Nabi, kepada tauhid dan keadilan, kepada penjagaan terhadap
harkat dan martabat manusia dan kepada ketaatan terhadap Tuhan dan utusan-utusan-Nya

Tuan Presiden…


Data-data sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan yang berada dalam jalur kezaliman tidak pernah bertahan lama. Tuhan tidak menyerahkan nasib manusia di tangan penguasa zalim. Tuhan tidak membiarkan dunia dan manusia
begitu saja. Bukankah sudah banyak kejadian yang bertolak belakang dengan rencana-rencana para penguasa. Kejadian-kejadian sejarah menunjukkan bahwa ada
kekuatan misterius di atas segalanya di balik semua ini yang mengatur semua
hal.

Tuan
Presiden…


Apakah tanda-tanda perubahan di dunia kini dapat diingkari? Apakah keadaan dunia sekarang dengan sepuluh tahun yang lalu dapat dibandingkan. Perubahan terjadi
begitu cepat dan dengan dimensi yang sangat luas.

Masyarakat dunia tidak rela dengan kondisi dunia kini. Mereka tidak percaya dengan janji-janji sebagian penguasa paling berpengaruh pun di dunia.

Sebagian besar masyarakat dunia merasa tidak aman. Mereka tidak setuju dengan berkembangnya kondisi ini begitu juga dengan perang. Mereka juga tidak setuju dengan kebijakan ganda.

Masyarakat dunia protes akan adanya jurang pemisah yang dalam antara mereka yang kaya dan miskin dan antara negara yang sejahtera dan miskin. Masyarakat semakin membenci kebejatan moral yang semakin meningkat.

Mayoritas masyarakat di negara-negara merasa tidak puas karena basis budaya mereka terancam dan institusi keluarga yang berantakan serta kasih
sayang dan cinta kasih yang semakin luntur.

Masyarakat dunia mulai pesimis memandang PBB. Hal itu dikarenakan hak-hak mereka tidak dipertahankan.

Liberalisme
dan Demokrasi Barat tidak mampu mendekatkan manusia kepada idealisme mereka. Liberalisme dan Demokrasi adalah dua kata pecundang. Para pemikir dan cendekiawan dunia dengan jelas mendengar suara runtuhnya pemikiran dan sistem Liberal-Demokrasi.

Hari ini perhatian masyarakat dunia semakin meningkat kepada sebuah fokus. Dan pusat itu adalah Tuhan Yang Esa. Dan tentunya masyarakat dengan tauhid dan berpegangan dengan ajaran-ajaran para Nabi akan dimenangkan atas masalah yang dihadapi.

Pertanyaan penting dan serius saya di sini:

Apakah Anda tidak ingin menyertai mereka?

Tuan Presiden…


Mau tidak mau, dunia sedang mengarah pada penyembahan Allah dan keadilan dan kehendak
Allah akan mengalahkan segala-galanya.

Keselamatan kepada mereka yang mengikuti petunjuk

Mahmud Ahmadi Nejad

Presiden Republik Islam Iran

Tehran 17-02-1384

07-05-2006

Sekat

February 23rd, 2006 by arethe

Membangun hubungan
antar manusia tanpa sekat memang tak mudah. Kebanyakan diantara kita selalu membangun
sekat dalam melakukan interaksi. Sekat itu bisa berupa kedudukan, status
ekonomi, pendidikan, agama, ras, kelompok, ideologi. Satu sama lain merasa
lebih unggul, lebih benar, lebih pintar. Tak heran bila konflik seringkali
muncul. Padahal kita diciptakan oleh Tuhan setara. Dimata Tuhan, semua umat
manusia adalah setara. Dimata-Nya kita adalah mahluk yang paling tinggi
diantara semua yang diciptakan. Yang membedakan hanyalah amal kebaikan. Sebab
tugas manusia di dunia adalah menjadi khalifah yang dapat memberi rahmat ke
seluruh alam semesta. Itu teorinya. Prakteknya? Luar biasa susah!

Realitas Jakarta 2

February 23rd, 2006 by arethe

 

Tak mau kalah! Rupanya
sudah menjadi ciri warga Jakarta. Realitas yang paling gampang dilihat tentu saat kita
sedang berada di jalan. Mulai dari pengendara motor, metromini hingga mobil
mewah.
Yang satu pengen buruan
nyampe ke kantor , yang satu kejar setoran, yang satu gengsi kalau diselip
orang lain. Pokoknya banyak banget deh alasannya. Penyakit tak mau kalah juga
menjalar dalam hubungan antar manusia. Gak mau kalah pintar, gak mau kalah kaya,
gak mau kalah penampilan dan gak mau kalah gertak. Yang penting gua gak kalah.
Gengsi kalau kalah atau mengalah. Ya, begitulah Jakarta. Kota yang tak memberi sisa pada kerendahatian.
May God bless us.

Realitas Jakarta

February 23rd, 2006 by arethe

Aura uang dan kekuasaan sangat terasa di Jakarta. Setiap orang berlomba-lomba menunjukan
kekayaan dan kekuasaan. Eksistensi manusia Jakarta, mungkin juga fenomena umum
di seluruh dunia, ditentukan oleh seberapa banyak harta atau kekuasaan yang
dimilikinya. Akibatnya penyakit “Show of Force” alias unjuk diri lewat lagak
yang sombong menjadi epidemi di masyarakat metropolitan! Mulai
dari orang
miskin hingga para konglomerat. Mulai dari para intelektual hingga preman
pasar. Mulai dari pejabat tinggi hingga pegawai rendahan. Tingkah lakunya sama
saja. Selalu ingin menunjukan apa yang mereka miliki. Tak ada tempat bagi
mereka yang mencoba hidup sederhana dan rendah hati.
Mereka akan digilas oleh gerombolan “Show of
Force” ini. Inilah realitas di Jakarta.

 

Kafir Bukan Berarti Orang Yang Beda Agama

February 20th, 2006 by arethe

Sahabat sekalian, sering sekali kita menyebut orang yang
tidak beragama 
Islam sebagai ‘kafir’. Itu yang diajarkan sejak kecil pada
kita. Dan
makna yang tidak tepat ini turun temurun diwariskan
dari generasi ke generasi, pada akhirnya kita menerimanya dengan taken for
granted saja, dan tidak memeriksa lagi kebenarannya.

Seandainya kita mau membuka Al-Qur’an dan mencari definisi
Qur’aniyahnya, maka akan kita temukan bahwa makna kata ‘kafir’ sebenarnya sama
sekali tidak secara langsung terkait dengan perbedaan agama.

Makna ‘Kafir’
Mari kita buka Al-Qur’an. Kita biasakan mencari definisi
qur’aniyah dari
segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian,
kita akan terbiasa
untuk  membuka Al-Qur’an dan pelan-pelan Insya Allah kita
akan merasakan 
Al-Qur’an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita
belajar untuk
memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil
agama yang belum tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk mendebat orang
lain. Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur’aniyyah dari kata kafir, bisa kita temukan di
surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.


Q.S. 18:100, "dan Kami tampakkan Jahannam pada
hari itu kepada
orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas."

Q.S. 18:101, "yaitu orang-orang yang matanya
dalam keadaan tertutup
dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa
Indonesia dengan
kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku,
dan adalah
mereka tidak sanggup mendengar."

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah
dari kata
‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah
mereka yang matanya
tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran
Allah, dan
telinganya tidak sanggup mendengar.

Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut
usia ia menjadi
tuli  atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti
ditakdirkan
akan mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang
kebetulan ditakdirkan
tuli atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan
untuk hidup
sebagai orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya
untuk
dilahirkan sebagai orang buta atau tuli. Apakah Allah
menakdrkannya kafir
karena kebetulan lahir sebagai orang tuli atau buta?

Tentu jawabannya tidak. Jika demikian, betapa jahatnya
Allah. Semua
orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, diberi-Nya
kesempatan untuk
mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.

Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?

Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj
(22) ayat 46.

Q.S. 22:46, "Maka apakah mereka tidak berjalan
di muka bumi, lalu
mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat
memahami atau
mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb
mereka (quluubun) yang ada di dalam dada."

Dari definisi qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’
bukanlah orang yang
berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata
dan telinga di
dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan
‘kufur’ adalah
‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini diserab bahasa
inggris menjadi
‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang
tertutup dari
‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).

Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata
dan telinga
yang adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam
lagi. Mata dan
telinga yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada
dalam qalb kita,
yang ada pada level jiwa (nafs).

Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang dipersatukan
dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), dan Jasad.
Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali disumpah di
hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna,
kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.

Q.S. 7:172, "Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu
mengeluarkan anak-anak Adam

dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap
nafs-nafs
jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: "Bukankah aku ini
Rabb-mu?" Mereka
menjawab, "Betul, kami bersaksi (syahidna)".

Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu,
dan kelak akan
diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada
saat itu jasad

kita terurai menjadi tanah, dan ruh kembali pada-Nya.

Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang
ada dalam dadanya ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih ‘kafir’, atau
tertutup. Ia
tidak akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk
ini turun bukan
ke telinga dan mata jasad kita, tapi ke ‘mata dan telinga’
jiwa (nafs)
dalam qalb kita.

Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat
At-Taghabuun ayat 11:

Q.S. 64:11, ". Dan barangsiapa beriman kepada
Allah, niscaya Dia akan
memberi petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur’an
ditulis: ‘kepada
hatinya’)."

Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum
berfungsi, dia

tidak akan mampu memahami Al-Qur’an dengan
sebenar-benarnya, karena

Al-Qur’an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak.
Sebagaimana yang

dialami Rasulullah, Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya.
Rasulullah
seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa
memahami
Al-Qur’an hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur’an
sesungguhnya ada dalam dada, bukan dalam kepala.

Q.S. 29:49, "Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah
ayat-ayat yang nyata
dalam dada orang-orang yang diberi ilmu."

Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna
‘kafir’. Kata ‘kafir’
bukan berarti mereka yang tidak beragama Islam. ‘Kafir’
adalah mereka
yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi,
sehingga tertutup
dari Al-Haqq (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah).
Dengan demikian,
bahkan saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga
jiwa saya belum
berfungsi dengan baik, belum sempurna dalam melihat
tanda-tanda
kebesaran-Nya, dan belum memahami Al-Qur’an dengan
sempurna.

Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak
kekufuran yang ada
dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk
menyebut orang
lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang
kafir. Hal ini
tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan
justru akan
menambah dosa saja.

Apakah orang yang
tidak beragama Islam semuanya tidak beriman? Belum

tentu.
Kita harus
berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam
Al-Qur’an.

Q.S. 3:199, "Dan sesungguhnya di antara para ahli
kitab ada orang yang
beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada
mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan
ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi
Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat
perhitungannya."

Q.S. 3:113, "Mereka itu tidak sama; di antara ahli
kitab itu ada
golongan yang berlaku lurus,
mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa
waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud."
Q.S.3:114, "Mereka
beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh
kepada yang
ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera
kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh."

Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain
meskipun mudah di
lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak.

Kafir Bukan Status Keagamaan

Makna kata ‘kafir’ ada dalam konteks ketertutupan telinga,
mata dan hati (qalb), dan –bukan– dalam konteks perbedaan agama, sekali
sebagaimana

telah dijelaskan pada tulisan, akan semakin jelas lagi
jika kita
perhatikan ayat qur’an berikut ini:

Q.S. 2 : 6 -7
(2:6) "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi
mereka, kamu beri

peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak
akan beriman."

(2:7) "Allah telah mengunci mati hati/qalb-qalb
(quluubihim) dan
pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan
bagi mereka
siksa yang amat berat."

Jika kita lihat ayat ‘kafir’ di atas, sebenarnya
memperkuat definisi
‘Kafir’  sebagaimana telah tersimpan dalam 18:100 dan
18:101, bahwa 
kekafiran ada dalam pengertian ketertutupan qalb, dan sama
sekali tidak
terkait langsung dengan perbedaan agama. Tentu bukan
kebetulan bahwa dua ayat di atas diletakkan berdampingan.

Hanya sayangnya, dua ayat di atas pun sering secara
sembrono dijadikan
dalil untuk bersikap bermusuhan terhadap saudara kita yang
beragama lain.
Padahal, seandainya kita lebih teliti lagi, kata ‘kafir’
sebenarnya ada
dalam konteks ketertutupan hati, bukan dalam konteks
perbedaan agama. 
‘Kafir’ adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah), bukan status
(keagamaan).

Semoga bermanfaat.

Herry Mardian,
17 Februari 2006.
http://suluk.blogsome.com

MATA

November 28th, 2005 by arethe

Kutatap mata gadis
itu. Kadang kala matanya bersinar saat melihatku. Tampak begitu berbinar.
Kadang kala menyorot dengan tajam. Penuh selidik. Aku ingin sekali menyelam ke
dalam dasar pikiran gadis ini. Lewat matanya. Tapi hingga tiga jam kami bicara,
aku tetap belum tahu apa-apa tentangnya.

Padahal beragam
topik sudah kami bicarakan. Mulai dari latar belakang kehidupan keluarga hingga
proses pembuatan kopi. Mulai dari menceritakan pekerjaan yang sudah mulai terasa
membosankan hingga tentang spritualitas.

Aku memang sangat suka memperhatikan mata dari lawan bicara ku. Apalagi
lawan bicaraku kali ini adalah perempuan yang memiliki mata yang sangat indah.
Mungkin hingga berjam-jam aku sanggup menatapnya.

Mata bagi aku adalah jendela hati. Dari mata, kadang, aku dapat melihat
kondisi batin atau pikiran seseorang. Apakah dia sedang tenang atau gelisah.
Apakah dia sedang marah atau bahagia. Dari
mata kita juga dapat mengungkap seluruh perasaan cinta kita terhadap seseorang.
Dari
mata juga kita dapat mengungkap rasa benci terhadap seseorang. Semua dapat
dilakukan tanpa harus berbicara satu patah pun.

Mungkin aku tak sehebat kakek ku, yang katanya dapat menebak karakter dasar
seseorang dari matanya.
Sehingga,
menurut cerita ibuku, banyak laki-laki yang hendak mendekati anak perempuan ayahnya
ditolak kehadirannya. Sebaba, kakekku melihat mata laki-laki yang datang itu
memancarkan karakter kurang baik. Itu menurut cerita ibuku.

Kembali ke gadis yang menjadi teman bicaraku. Gadis ini rupanya cukup
pandai menyembunyikan kondisi pikiran atau hatinya.
Dia terlihat begitu tenang saat mendengarkan
aku bicara. Kadang-kadang tertawa saat mendengar leluconku. Kadang-kadang
matanya mengamati lingkungan sekitar. Dan tersenyum saat muncul pengunjung, yang menurutnya,
berpenampilan agak aneh. Tapi tetap saja mata gadis itu tak bercerita apa-apa
terhadapku.

Hingga akhirnya malam mulai larut. Dan
kita harus pulang ke rumah masing-masing. Padahal aku belum tahu apa-apa
tentang dirinya. Namun dia berjanji untuk mengobrol lagi denganku dilain waktu.
Dengan topik yang lebih seru tentunya. Topik yang menjauhkan kita dari
rutinitas kehidupan yang mulai terasa seperti mesin. Mesin kehidupan..May God
bless our soul

Lust

November 11th, 2005 by arethe

Seekor kucing tampak kotor
mengukuti hasrat mengejar katak di kolam lumpur
Lihatlah!Betapa kotor dia jadinya

Hidangan lezat sudah tersedia, mengapa engkau lebih memilih
katak dalam lumpur?

Mengapa kau tak ikuti akal?Justru memilih hasrat yang menyesatkan

Tubuh kau yang bersih dan bercahaya hilang sudah
Sungguh bodoh hai kucing yang malang!
Hasrat mengalahkan akal!
Kotor!Kotor!Kotor!

Jijik aku melihatnya!

Jakarta,28/011/03