Archive for April, 2005

Kita Tidak Miskin

Tuesday, April 19th, 2005

"Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin.Benarkah itu, Bu?"
"Tidak, kita tidak miskin, Aiko"
"Apakah kemiskinan itu?"
"Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain."
"Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?"
"Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur."
"Kita menjadi bersempit-sempitan"
"Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?"
"Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain."
"Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu."
"Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di
sekolah. Juga cerita-cerita Alkitab dari Sekolah Minggu."
"Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita."
"Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!"

Nampaknya yang perlu ditanyakan bukanlah "Apakah saya punya?", karena kita pasti mempunyai sesuatu. Melainkan "Apakah yang saya punya?"
yang bisa diberikan -waktu, perhatian, cerita, tenaga, makanan,tumpangan, uang, …
Pertanyaannya bukanlah "Seberapa saya punya?", karena kekayaan sejati lebih ditentukan oleh "Seberapa saya memberi?"

sumber : tidak diketahui

Keputusan yang baik

Tuesday, April 19th, 2005

Kisah ini terjadi pada Dinasti Wei Utara pada tahun 534-550..

Pada saat itu tarjadi kekacauan politik dan kehancuran ekonomi yang menyebabkan Cina mengalami perpecahan.

Suatu ketika seorang bangsawan yang kuat bernama Gao Hwan ingin menguji ketrampilan manajemen putranya, maka ia memberikan pada masing-masing putranya beberapa untai tali sutra yang kusut dan terikat, lalu dia meminta mereka untuk meluruskan tali-tali itu.

Semua putranya dengan berhati-hati mencoba untuk meluruskan benang-benang kusut itu, kecuali seorang putra bernama Gao Yan. Setelah memperhatikan saudara-saudaranya gagal dalam menarik simpul-simpul tali itu, ia mengambil pedangnya dan memotong-motong gulungan-gulungan tali menjadi potongan kecil. Saudara-saudaranya kaget dan keheranan, dan ayahnya bertanya perihal sikapnya yang aneh ini.

"Sederhana saja," putra yang berani itu menjawab. "Manakah yang lebih penting, waktu saya atau meluruskan kekacauan ini? Apa imbalannya untuk waktu yang hilang dan kekacauan yang berhasil diluruskan? Apapun yang terlalu rumit untuk dipecahkan dalam jangka waktu yang masuk akal adalah pekerjaan yang sia-sia belaka dan tidak perlu saya perhatikan. Dengan memotong-motong dan membuangnya, dengan sedikit kerugian, saya rasa adalah metode yang paling efektif dalam menangani masalah semacam ini."
sang bangsawan sangat puas dengan tindakan putranya. Setelah beberapa tahun,putra ini menurunkan sang kaisar dari tahtanya dan menobatkan dirinya sendiri.

Orang sering memusatkan perhatian untuk pemecahan suatu masalah dan melupakan biaya dari prosedurnya. Sebagai akibatnya, mereka sering membuang waktu mereka yang berharga untuk mengurus hal-hal sepele hanya untuk keuntungan kecil. Waktu, salah satu komoditi yang paling berharga namun juga yang paling diabaikan, harus selalu diperhitungkan saat menangani sebuah dilema. Siapapun yang menghargainya akan memperoleh yang terbaik dari kehidupan.

Di sadur dari buku Wisdom’s Way Karya Walton C. Lee

Semua Kejadian Berjalan Dengan Cepat

Tuesday, April 19th, 2005

Malam telah pergi dan pagi menjelang. Ya, malam telah
dikuburkan dan hari baru dating Dan ketika malam
dating lagi, maka setiap kejadian hari ini akan
berlalu dengan cepat.

Segala sesuatu berjalan dengan cepat. Kalian tak dapat membayangkan bagaimana cepatnya segala sesuatu
berubah. Dan kita berpikir bahwa segalanya sama,
seperti ketika kita berada di pesawat dan tidak dapat
melihat apa yang terjadi. Tetapi kadang kala saya juga melalui jendela pesawat melihat keluar dan saya
melihat pesawat lain berada dibawah kita.

Saat itu saya menyadari bahwa kita seperti pesawat
yang sedang terbang itu, bahwakita juga terbang tidak
berhenti. Bila saya tidakmelihat keluar saya kira
bahwa kita tetap berada ditempat tidak bergerak. Dan
akhirnya kitapun sampai ketempat tujuan kita.

Semua mahluk didunia adalah penumpang, duduk di planet bumi ini. Ketika saya berpikir tentang hal ini, kadang saya bergumam,” pergi dalam waktu “ siapakah Kapten kapalnya, siapakah yang mengatur, siapa pilotnya? Apakah planet yang besar dengan seluruh penumpangnya tak ada pilotnya, tak mungkin. Bahkan setiap penumpang berkelahi satu sama lain, saling melempar , mereka semua berkelahi.

Dalam ruang waktu, kemanakah kita menuju? Apabila kita bergerak diluar orbit, segalanya akan habis, orang akan terlempar kesana kemari, Ya Latif,Ya Yang Maha Lembut. Dan kita duduk diatas api, api yang berada didalam bumi. Tetapi manusia tidak merasa takut,karena mereka tidak berpikir, mereka mabuk. Laa hawla walaa quwwata illa bill ah hil adzim, Tak ada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi.
(sumber:http://mevlanasufi.blogspot.com)

Aku Biasa-biasa Aja!

Friday, April 15th, 2005

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua
dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan
scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar
(visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita
memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal,
atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab
ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti
uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali
tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di
sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja
namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki
banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus
berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul
dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal
yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.

"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika,
Bahasa Indonesia, Menggambar….pokoknya pinter
sekali….!" katanya santai. Vivi juga pintar sekali
menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya
hafalannya banyaaak… sekali!"

Ya memang Fani senang sekali membanggakan
teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya
ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani
pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran
khasnya,"Hehehe… kalau aku, sih, biasa-biasa saja".

Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi Anda,
tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani
memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran
prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa
Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing
temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah,
mendamaikan temannya yang bertengkar. Bahkan ketika
dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5
tahun)bertengkar. Fani langsung turun tangan.
"Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh
bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?" Adiknya
saling tunjuk. "Hayo, jujur …Jujur itu disayang
Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan".

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di
toko, dengarlah komentarnya! "Wah bajunya bagus-bagus
ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku di rumah
masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan
Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …"
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya,
subhanallah, anak sekecil itu sudah bisa menunda
keinginan, sebagai
salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini
kepada Anda, karena betapa banyak dari kita yang
mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti
itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan
pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang
mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi
kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita
tidak mencapai ranking sepuluh besar di sekolah.
Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala
anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau
menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa
bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA",
maka saat itu ibunya menjawab "Alhamdulillah, mbak
Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau
bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak
Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya… ibunya
ingin mensupport dan memberikan reward yang positif
bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah
amanah dan
suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan
bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita
setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan
hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi
kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum
mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Source : L. Fini R.A

Daftar Kegagalan

Friday, April 15th, 2005

Di bawah ini ada sebuah daftar kegagalan dari orang yang
semasa hidupnya mengalami banyak tantangan dan badai.
1831 - ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya.
1832 - ia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal.
1833 - ia kembali menderita kebangkrutan.
1835 - istrinya meninggal dunia.
1836 - ia menderita tekanan mental sedemikian rupa, sehingga
hampir saja masuk rumah sakit jiwa.
1837 - ia menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato.
1840 - ia gagal dalam pemilihan anggota senat Amerika Serikat.
1842 - ia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres
Amerika Serikat.
1848 - ia kalah lagi di konggres Amerika Serikat.
1855 - ia gagal lagi di senat Amerika Serikat.
1856 - ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil
presiden Amerika Serikat.
1858 - ia kalah lagi di senat Amerika Serikat.
1860 - ia menjadi presiden Amerika Serikat.

Namanya Abraham Lincoln.

Apa Penyebab Penyakit?

Thursday, April 14th, 2005

Kalau keabadian itu ada, Aku ingin tak mati. Akan tetapi tidak ada keabadian di dunia ini. Dr. Harldson Hoffen, seorang dokter di sebuah rumah sakit (Mei), suatu ketika mempresentasikan hasil risetnya di depan lembaga Amerika untuk para dokter, ahli bedah dan kalangan industriawan. Saat itu ia mengatakan bahwa ia telah meneliti kondisi seratus tujuh puluh enam pekerja. Usia mereka rata rata 44 tahun. Ternyata lebih dari sepertiga para pekerja itu menderita satu dari tiga penyakit yang disebabkan oleh ketegangan saraf. Tiga penyakit itu adalah kerusakan jantung, infeksi lambung dan tekanan darah.

Yang demikian itu terjadi saat mereka belum sampai 45 tahun. Apakah orang yang membayar keberhasilannya dengan infeksi lambung dan kerusakan jantung bisa dianggap sebagai orang yang sukses? Apa gunanya mengumpulkan dunia dengan mengorbankan kesehatannya? Walaupun seseorang memiliki dunia seluruhnya, dia tidak dapat tidur kecuali di atas satu tempat tidur saja. Dia pun tidak bisa makan kecuali tiga kali sehari.

Lalu apa bedanya antara dia dengan kuli bangunan? Bahkan boleh jadi para kuli bangunan itu bisa tidur lebih nyenyak dan lebih lahab menikmati makanan ketimbang para bisnisman yang memiliki kedudukan.

Dr. W.S. Fritz mengatakan : "Empat dari lima orang yang sakit tidak disebabkan oleh kerusakan fisik, tapi penyakit mereka ditimbulkan oleh ketakutan, gelisah, kebencian, ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan kehidupan, dll.

Pencerahan : Kita tidak kuasa mengubah masa lalu dan melukis masa depan sesuai dengan keinginan kita. Lalu, mengapa kita membunuh diri sendiri dengan bersedih atas sesuatu yang tidak mungkin kita ubah.

Bicara Dengan Bahasa Hati

Thursday, April 14th, 2005

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh
cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan
oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan
oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh
ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan
oleh kesabaran.

Semua itu haruslah berasal dari hati anda.
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai
ke hati pula.

Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot
dan betapa tajam otak anda,
namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala sesuatunya.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang
bayi hanya dengan
merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau,
membujuknya dengan berbagai
gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus
mendekapnya hingga ia merasakan
detak jantung yang tenang jauh di dalam dada
anda.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum
memberikannya pada keberhasilan
anda

Untuk Salik

Monday, April 4th, 2005

"Jika engkau belum mempunyai ilmu dan hanya persangkaan,
maka milikilah persangkaan yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau baru mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan dalam rahmatNya tetap menerima mata uang palsumu.

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. Begitulah caranya!

Wahai pejalan!

Biarpun engkau telah seratus kali ingkar janji, ayolah datang dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah befirman:
"Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku, karena Aku-lah jalan itu."

Jallaludin Rumi

Welcome to the world!

Monday, April 4th, 2005

(kisah nyata ini diambil dari Blog pribadi-ku :))

Baru kali ini aku sempat menggoreskan kata lagi. Setelah seminggu lebih disibukan oleh proses kelahiran anaku yang pertama. Terasa sangat melelahkan, tetapi semuanya dilalui dengan hati yang riang. Cerita ini aku mulai saja dari hari Selasa (29 Juni 2004). Saat itu aku masih di Jakarta. Lagi asik-asiknya bekerja. Eh, tiba-tiba jam 11 siang aku terima telepon dari my Mommy di Bandung. Katanya Ikeu mulai mules-mules. Seperti mo melahirkan. Wah, panik aku. Langsung aku Bergegas pamit ke teman kantor dan kemudian berangkat ke Gambir.

Sampai di Stasiun Bandung sekitar pukul 5 sore. Dalam pikiranku terbayang Ikeu sudah mulai menderita..Menahan rasa sakit.Tapi..sesampai di Rumah..Ternyata istriku masih kelihatan nyante..hehehhe..Rupanya mules yang dirasakan tadi bukan mau mules melahirkan…Mules biasanya aja..owalah..piye to iki..Tapi tak apalah..yang penting aku hadir di sisi Ikeu saat momen-momen penting… ..Menunggu apa yang ditunggu…Lama menanti..ternyata Ikeu belum mules-mules juga..Apalagi pembukaan rahim. Padahal umur kandungannya telah mencapai 40 minggu alias udah tua. Esok harinya, Bidan Ida ,teman mamah, menyarankan agar kita ke dokter.

Setelah berunding, ahirnya kita memutuskan untuk datang ke RSUD Ujung Berung yang terletak tak jauh dari Riung Bandung. Di RS pemerintah ini, Ikeu diperiksa oleh Dokter Novi. Salah seorang dokter spesialis kandungan yang paling muda dan cantik di RS ini. Oh ya, perlu diketahui kenapa kita pilih RS Ujung Berung, rumah sakit yang belum pernah aku dengar sebelumnya, karena di tempat ini Bidan Ida telah dikenal dengan baik. Sehingga penanganan ke Ikeu menjadi lebih cepat. Dibandingkan kalau kita datang ke RS Al-Islam yang penanganannya sering lambat.

Nah, setelah diperiksa dokter cantik ini, istriku disarankan untuk pulang dulu. Jika sampai keesokan harinya tak melahirkan juga, kemungkinan akan dilakukan cesar. Penantian satu malam terasa lama banget. Dan ternyata hingga fajar menyingsing, si jabang bayi tak mau keluar juga. Akhirnya setelah konsultasi lagi dengan Dokter Novi, diputuskan untuk dilakukan operasi cesar pada hari Kamis tanggal 1 Juli 2004.

Rabu (30/6/04) siang Ikeu mulai menginap di ruang kelas II di rumah sakit ini. Malam harinya dia disuruh puasa. Kemudian, esok harinya jam Kamis tangal 1 Juli 2004 pukul 8.45 Ikeu mulai masuk ruang operasi. Semua orang tampak berwajah tegang. Mulai dari Mamah, Bapak, Mertua, teh Susi sampe Ari. Sementara itu, diriku sibuk mengurus obat yang harus dibeli di apotek. Setelah selesai mengurus semuanya, aku ikut menunggu di luar ruang operasi.

Nah, tepat pukul 9.10, terlihat dua orang suster membawa sesosok bayi keluar ruang operasi . Mertuaku langsung menghampiri mereka. “Apakah ini anak ibu Ikeu?” tanyanya ke suster tersebut. Mereka mengiyakan (menurut keterangan Bidan Ida yang mengikuti proses operasi Ikeu, anaku dikeluarkan dari rahim ibunya tepat pukul 09.02). Sementara aku masih bengong melihatnya. Tak mengira akan secepat itu melihat si Kecil. Tak ada kata yang sanggup melukiskan perasaanku saat itu. Campur aduk. Seperti gado-gado. Bahagia, takjub, heran, takut, sedih. Segera aku mengikuti suster ke ruang bayi. Hanya aku yang dapat masuk. Yang lain menunggu di luar. Aku diberi mandat untuk mengumandangkan adzan dan khomat di kedua telinga si kecil.

Seperti biasa, aku tak kuasa menahan air mata haru. Tak habis pikir..aku dapat memiliki anak sendiri. Tak habis pikir darimna asalnya malaikat kecil ini. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku “Wah, aku harus ngambil gambar si kecil,”. Bergegas aku keluar untuk mengambil kamera digital. Setelah itu aku potret si kecil beberapa kali. Puas sudah diriku.

Sementara itu, Ikeu belum tampak keluar dari ruang operasi. Baru sekitar jam 10-an, kita diberitahu bahwa proses “menjahit perut” istriku telah selesai. Ikeu tampak terbaring lemah di ranjang. Hidungnya masih dihubungkan dengan tabung oksigen. Kesadarannya belum pulih benar. “Kasihan benar istriku,” demikian pikirku saat itu. Bapak, mamah, mertua, Teh Yeni, Teh Susi, Ari tampak mengelilingi ranjangnya. Kemudian aku menghampiri istriku dan membisikan” Say, ternyata anak kita mirip banget dengan Aa,”. Walau belum sadar penuh, istriku tersenyum (tepatnya menyeringai) saat mendengar kalimat yang aku ucapkan. Entah senang atau kecewa :))

Akhirnya, Ikeu dipindahkan ke kamarnya lagi. Nah, mulai saat itu hari-hari begadangku dimulai. Si kecil ditidurkan bareng satu ruang dengan ikeu. Tiap malam aku temani Ikeu dan mertuaku untuk menganti popok si kecil dan memberinya ASI.

Kondisi ini terus berlanjut hingga Ikeu diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari minggu tanggal 4 Juli 2004. Satu hari menjelang prosesi pemilu capres dan cawapres tanggal 5 Juli 2004. Di rumahpun aku menemani Ikeu begadang. Maklum jadwal kehidupan si kecil belum teratur. Siang tidur, malam bangun.Melelahkan memang, tapi asik. Pengalaman baru bagi kehidupan rumah tangga kami berdua. May Allah bless us..