Archive for September, 2005

Demontrasi Diam

Thursday, September 29th, 2005

Setelah kejatuhan Suharto di tahun 1998, tak ada lagi demontrasi yang memiliki nilai signifikan. Demontrasi yang dapat membuat keputusan penguasa berubah. Setelah tahun itu, demonstrasi dianggap sebagai teriakan orang tak ada kerjaan atau dipandang dengan sinis. “Ah, demontrasi..bikin macet jalan aja..” Ah, demontrasi, paling di bayar..”Ah, demontrasi, percuma aja.Gak ngerubah apa-apa,”..Ungkapan-ungkapan tersebut memang terdengar tidak enak. Namun itu dapat menjadi semacam pembelajaran bagi para demonstran atau orang yang hendak melakukan aksi menentang segala ketidak adilan.

Mungkin kita perlu merubah cara untuk melakukan protes terhadap penguasa. Demontrasi lewat aksi turun kejalan dengan membawa massa memang sudah menjadi mode umum. Tapi, belajar dari pengalaman sejak pasca kejatuhan Soeharto ternyata demontrasi yang membawa massa turun ke jalan sambil berteriak ternyata tidak efektif lagi. Lihat saja demontrasi menentang kenaikan BBM yang terjadi sejak jaman Gusdur, Mega hingga SBY kok ditanggapi dingin saja oleh pemerintah. Demontrasi agar mantan presiden Suharto diadili-pun dianggap angin lalu, demontrasi agar korupsi penguasa diusut dan diadili juga tak terlalu ditanggapi secara signifikan.

Mungkin kita perlu merubah cara demontrasi kita. Demontrasi yang lebih enak dan nyaman. Gak buat jalan macet, gak keringetan, gak bentrok ama polisi, nyaman, santai tapi efektif. Caranya? Menurut pemikiran iseng saya, bagaimana kalau seluruh elemen masyarakat melakukan mogok kegiatan. Mulai dari supir angkutan umum, karyawan pabrik, karyawan kantoran, pelajar, mahasiswa, dosen. Semua mogok melakukan kegiatan. Semuanya hanya duduk atau nongkrong di pinggir jalan. Tak perlu menyerbu istana. Tak perlu teriak-teriak pakai pengeras suara. Duduk saja. Diam. Santai. Tak bicara. Kegiatannya hanya bengong, minum kopi, ngerokok, makan. Bergerak kalau mau buang air kecil atau besar, merasa lapar dan haus atau badan pegal karena telalu lama duduk. Kalau hendak berkomunikasi dengan yang lain menggunakan coretan di kertas atau ngetik di ponsel /PDA. Asik khan?

Protes diam ini juga merupakan ekspresi dari kematian kata, akal sehat dan hati nurani. Protes ini tak hanya ditujukan bagi penguasa tetapi juga bagi diri kita sendiri. Yang terlalu banyak bicara bohong , tak menggunakan lagi akal sehat dan terus mengabaikan hati nurani.

Namun ini hanya pemikiran iseng saja…

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA TAHUN 1426 H BAGI SELURUH UMAT ISLAM DI DUNIA. SEMOGA BULAN PENUH RAHMAT INI DAPAT KITA PERGUNAKAN SEBAGAI PROSES MELAKUKAN INSTROPEKSI DIRI. SEMOGA.. AND MAY ALLAH FORGIVE OUR SIN..AMIEN

Menolak Pencabutan Subsidi BBM

Tuesday, September 27th, 2005

Ada Artikel menarik dari seorang teman tentang Kenaikan BBM:

"Menolak
Pencabutan Subsidi BBM" buat Orang Awam

PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN (FAQ)

Naskah ini juga bisa diakses dan didownload di
bawah ini

WEB: http://www.penaindonesia.org/bbm/
PDF: http://www.penaindonesia.org/bbm/subsidi.pdf
WORD: http://www.penaindonesia.org/bbm/subsidi.doc

PEMERINTAH MENGATAKAN, AKIBAT KENAIKAN HARGA MINYAK
DUNIA, SUBSIDI BBM
YANG MENINGKAT DRASTIS AKAN MENGANCAM DEFISIT
ANGGARAN NEGERI KITA.
BENARKAH?

TIDAK BENAR. Naiknya harga minyak dan gas dunia
memang meningkatkan
jumlah subsidi BBM. Tapi, juga meningkatkan
pendapatan ekspor

Indonesia dari sektor minyak dan
gas.



Artinya: naiknya pengeluaran untuk subsidi
diimbangi oleh naiknya

pendapatan ekspor migas. Anggaran akan aman
karenanya.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan,
pendapatan ekspor migas
kita akan meningkat bersama naiknya harga minyak di
pasaran internasional.

APAKAH SUBSIDI BBM MELEBIHI PENDAPATAN KITA DARI
EKSPOR MIGAS?

TIDAK BENAR. Pendapatan ekspor migas lebih besar
dari subsidi minyak.

Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,
pendapatan ekspor
migas kita tahun 2005 ini mencapai Rp 175 triliun.

Tahun 2004 lalu, pendapatan dari sektor migas ini
hanya Rp 122

triliun. Artinya ada kenaikan lebih dari 40%.

Sementara itu, masih menurut departemen yang sama,
subsidi BBM yang
dihitung dengan harga minyak dunia sekarang hanya
sebesar Rp 135 triliun.

Artinya ada surplus dari ekspor migas. Dengan kata
lain, subsidi tidak
akan mengancam defisit anggaran.

BENARKAH SUBSIDI BBM MERUPAKAN PENGELUARAN TERBESAR
NEGARA, SEHINGGA
JIKA DIPERTAHANKAN BAKAL MENGANCAM KEUANGAN NEGARA?

TIDAK BENAR. Di luar belanja rutin (gaji pegawai,
pembelian barang dan
belanja pembangunan), pengeluaran terbesar pemerintah
pusat ditempati
oleh pembayaran utang negara.

Lihat Tabel di sini
http://www.penaindonesia.org/bbm/

http://www.penaindonesia.org/bbm/images/2004.jpg
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/2005.jpg
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/2005.jpg

BERAPA BESARNYA UTANG PEMERINTAH INDONESIA?

Indonesia merupakan salah satu
negeri pengutang terbesar di dunia.


Menteri Keuangan melaporkan pada pertengahan
September 2005, utang

pemerintah Indonesia mencapai Rp 1.200 triliun
(seribu dua ratus

triliun rupiah), atau 52% dari Pendapatan Domestik
Bruto.

Indonesia juga salah satu negeri
yang paling berat beban utangnya.


Sekitar 30-40% pengeluaran pemerintah pusat
beberapa tahun terakhir
dipakai untuk membayar cicilan pokok dan bunga
utang negara. Makin
sedikit yang tersisa untuk belanja kesehatan dan
pendidikan.

Pembayaran utang akan meningkat dalam tahun-tahun
mendatang: dari Rp
108,7 triliun pada 2004 menjadi Rp 118,5 pada 2006
depan.

WAKIL PRESIDEN JUSUF KALLA MENGATAKAN, KENAIKAN
HARGA MINYAK MERUPAKAN
SATU-SATUNYA JALAN INDONESIA KELUAR DARI
KEBANGKRUTAN. BENARKAH
PERNYATAAN ITU?

TIDAK BENAR. Pencabutan subsidi bukan satu-satunya
jalan keluar untuk
mencegah kebangkrutan.

Ada alternatif lain:



1. Mengurangi kebocoran belanja rutin, yang selama
ini banyak dikorupsi.

2. Mengurangi pembayaran utang dengan cara meminta
pemotongan jumlah

utang.

MENTERI ABURIZAL BAKRIE MENGATAKAN: "PILIH
MEMBAKAR RP 60 TRILIUN DI
JALAN, ATAU SEKOLAH DAN RUMAH SAKIT GRATIS".
APA ARTI PERNYATAAN ITU?

PERNYATAAN ITU MENYESATKAN. Sekolah dan rumah sakit
gratis hanya janji
kosong. Pemerintah tidak akan mengalihkan Rp 60
triliun tadi, jika
ada, untuk belanja pendidikan dan kesehatan.

Tahun 2005, belanja sektor kesehatan hanya Rp 9,9
triliun, sementara
pendidikan Rp 30,8 triliun. Bandingkan dengan
pengeluaran untuk
pembayaran utang, sebesar Rp 93,9 triliun.

Tidak hanya pendidikan kesehatan yang makin merana.
Pembangunan

infrastruktur seperti jalan, air bersih dan
perumahan juga menyusut.

Belanja pembangunan terus merosot, sementara
pembayaran utang terus
meningkat.

Lihat Tabel dan Bagan di sini
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/utang.jpg

BENARKAH SUBSIDI BBM HANYA DINIKMATI ORANG KAYA,
YAKNI ORANG-ORANG

YANG MEMAKAI BENSIN, SOLAR DAN LISTRIK LEBIH
BANYAK?

TIDAK BENAR. Baik orang kaya maupun orang miskin
menikmati subsidi

BBM. Subsidi BBM adalah subsidi tidak langsung.
Artinya bukan bensin,
solar atau minyak tanah itu sendiri yang mempunyai
arti.

Subsidi BBM menopang daya beli masyarakat. Jika
subsidi dicabut, daya
beli masyarakat akan jatuh.

Bahan bakar merupakan komponen setiap barang dan
jasa yang kita

konsumsi (pangan, sandang, perumahan, obat-obatan,
layanan pendidikan).

Jika subsidi dihapus, maka harga pangan, sandang,
perumahan, obat dan
layanan pendidikan meningkat drastis. Orang miskin
akan semakin sulit
menjangkau kebutuhan pokok dan layanan dasar yang
harganya melambung.

Dampak kenaikan harga lebih besar bagi orang miskin
ketimbang bagi

orang kaya.

TAPI, BUKANKAH ORANG KAYA MENGKONSUMSI ENERGI
(MINYAK, SOLAR DAN

BENSIN) LEBIH BANYAK KETIMBANG ORANG MISKIN,
ARTINYA MEREKA MENERIMA
SUBSIDI LEBIH BANYAK DARI ORANG MISKIN?

BENAR. Orang kaya memang mengkonsumsi minyak dan
energi lebih banyak
karena mereka punya rumah lebih besar (listrik
lebih banyak, untuk
penerangan, kulkas dan AC) dan punya mobil yang
haus bensin.

Itu memang tidak adil. Harus ada cara untuk
mengoreksi ketidakadilan
itu. Pencabutan subsidi bukan cara satu-satunya.
Kita tak perlu
membakar rumah untuk menangkap tikus.

ADAKAH CARA LAIN UNTUK MENGOREKSI KETIDAKADILAN
ITU?

ADA

Ketidakadilan dalam
konsumsi minyak bersubsidi bisa dikoreksi

dengan menerapkan pajak yang sangat tinggi pada
mobil pribadi, kulkas,
AC, peralatan elektronik dan sebagainya, untuk
mengkomensasi tingginya
pemakaian bahan bakar mereka.

TAPI, BUKANKAH ORANG MISKIN DIBERI KOMPENSASI?

BENAR. TAPI JUMLAHNYA SANGAT SEDIKIT. Kompensasi
pencabutan subsidi
pada Oktober 2005 ini hanya sebesar Rp 4,7 triliun
untuk sekitar 15,5
juta keluarga. Bandingkan angka itu dengan
pembayaran utang negara
yang mencapai lebih dari Rp 90 triliun.

BUKANKAH SUBSIDI BBM MENYEBABKAN PENYELUNDUPAN?

BUKAN. Penyelundupan disebabkan oleh rendahnya
kinerja pemerintah

dalam menegakkan hukum, di samping merajalelanya
korupsi. Gaji pegawai
pemerintah terus meningkat, tapi mengurus
penyelundupan tidak bisa.

Belanja pegawai negeri meningkat dari Rp 54,2
tirliun pada 2004,

menjadi Rp 61,1 triliun dan diusulkan naik lagi
menjadi Rp 77,7

triliun pada 2004.

unek-unek 2

Tuesday, September 27th, 2005

Seorang teman
berpendapat bahwa kenaikan BBM adalah hal dilematis bagi pemerintah yang
berkuasa. Mau gak mau harus dinaikan karena negara udah gak punya uang. Hemm..masuk
akal. Namun tingkah laku penguasa tak menunjukan orang yang sedang kesulitan
keuangan! Seperti yang telah saya tulis di unek-unek sebelumnya. Gaya hidup mewah dan korupsi terus berjalan
dengan enaknya.

Kenaikan ini tak
akan menimbulkan penolakan yang luar biasa bila rakyat melihat penguasa juga
telah melakukan pengorbanan. Minimal memperlihatkan gaya hidup sederhana dan korupsi diberantas
dengan sungguh-sungguh. Bila itu dapat dilakukan, apapun kebijakan pemerintah
pasti didukung.

Penguasa jangan
hanya bicara kesulitan uang dan negara yang bangkrut. Dan kemudian merengek
minta pengertian masyarakat. Sementara tingkah laku mereka sama sekali tak
menunjukan orang yang kesulitan uang apalagi bangkrut. Please deh!

Unek-unek

Tuesday, September 27th, 2005

Ada iklan layanan masyarakat tentang kenaikan
BBM yang sangat mengganggu pikiran ku kemarin. Seorang Ustadz terkenal dan
sangat terkemuka asal Geger Kalong ,Bandung menjadi tokoh sentral dalam iklan tersebut.
Dengan tutur katanya yang bijak dia menyarankan agar masyarakat mau mengerti
alasan pemerintah menaikan harga BBM. Kata-kata beliau yang sempat terekam:
Harga minyak dunia naik sehingga berimbas ke kondisi kita…kita harus
sabar..percayalah Allah tak akan menguji seseorang melebihi batas
kemampuannya..solidaritas untuk bangkit bersama-sama..bla..bla..Hemmm..Apa yang
dikatakan Beliau yang terhormat “mungkin” benar.. namun “khutbah” Anda tidak
berkorelasi dengan kenyataan di lapangan.

Siapa
bilang rakyat kita tidak sabar? Berapa lama rakyat dianiya oleh beragam
kebijakan dan tingkah laku penguasa yang menyakitkan? Dibohongin lewat
kampanye, dikeruk kekayaan alam demi “perut” segelintir orang (lihat kasus
penyelundupan BBM bernilai triliyunan rupiah oleh Pertamina), digusur rumahnya
demi pembangunan, dikejar-kejar aparat tramtib hanya karena ingin bertahan
hidup..tak ada lapangan kerja, biaya pendidikan melambung tinggi..dan masih
banyak lagi. Namun rakyat masih tetap diam!Apa itu kurang sabar?

Bagaimana
dengan solidaritas? Pejabat, penguasa, kaum intelektual sibuk memperkaya diri
dengan tindakan korupsi yang tak tahu malu. Kemudian sibuk mempertontonkan
kemewahan yang didapat dari korupsi. Sementara itu, rakyat terkena busung
lapar, susah menggapai pendidikan yang layak, kemiskinan absolute dimana-mana.
Apakah itu yang disebut solidaritas AA yang terhormat?!

Nah,
sekarang BBM naik. Rakyat disuruh bersabar lagi Pak kyai? Harusnya para kyai
menggunakan ayat yang berbunyi "Sesungguhnya Alloh tidak merubah suatu
kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri"

(QS 13:11). Rakyat harus diajak berjuang sehingga
nasib mereka lebih diperhatikan oleh penguasa. Anda harusnya berfihak pada
kepentingan kelompok yang lebih lemah dan teraniaya. Bukannya memihak penguasa.
Apa bedanya Anda dengan anggota DPR, yang katanya wakil rakyat, namun pada
kenyataannya menjadi wakil penguasa (dari dulu kalee..).

Ahhhh..tapi
ini suara kaum pinggiran yang sudah terlalu sebal dengan tingkah laku penguasa.
Entah itu penguasa politik, ekonomi, kebudayaan atau agama. Selalu menganggap
dan merasa dirinya lebih pintar dan lebih tahu segalanya.

 
My
God bless us..Amien