Archive for February, 2006

Sekat

Thursday, February 23rd, 2006

Membangun hubungan
antar manusia tanpa sekat memang tak mudah. Kebanyakan diantara kita selalu membangun
sekat dalam melakukan interaksi. Sekat itu bisa berupa kedudukan, status
ekonomi, pendidikan, agama, ras, kelompok, ideologi. Satu sama lain merasa
lebih unggul, lebih benar, lebih pintar. Tak heran bila konflik seringkali
muncul. Padahal kita diciptakan oleh Tuhan setara. Dimata Tuhan, semua umat
manusia adalah setara. Dimata-Nya kita adalah mahluk yang paling tinggi
diantara semua yang diciptakan. Yang membedakan hanyalah amal kebaikan. Sebab
tugas manusia di dunia adalah menjadi khalifah yang dapat memberi rahmat ke
seluruh alam semesta. Itu teorinya. Prakteknya? Luar biasa susah!

Realitas Jakarta 2

Thursday, February 23rd, 2006

 

Tak mau kalah! Rupanya
sudah menjadi ciri warga Jakarta. Realitas yang paling gampang dilihat tentu saat kita
sedang berada di jalan. Mulai dari pengendara motor, metromini hingga mobil
mewah.
Yang satu pengen buruan
nyampe ke kantor , yang satu kejar setoran, yang satu gengsi kalau diselip
orang lain. Pokoknya banyak banget deh alasannya. Penyakit tak mau kalah juga
menjalar dalam hubungan antar manusia. Gak mau kalah pintar, gak mau kalah kaya,
gak mau kalah penampilan dan gak mau kalah gertak. Yang penting gua gak kalah.
Gengsi kalau kalah atau mengalah. Ya, begitulah Jakarta. Kota yang tak memberi sisa pada kerendahatian.
May God bless us.

Realitas Jakarta

Thursday, February 23rd, 2006

Aura uang dan kekuasaan sangat terasa di Jakarta. Setiap orang berlomba-lomba menunjukan
kekayaan dan kekuasaan. Eksistensi manusia Jakarta, mungkin juga fenomena umum
di seluruh dunia, ditentukan oleh seberapa banyak harta atau kekuasaan yang
dimilikinya. Akibatnya penyakit “Show of Force” alias unjuk diri lewat lagak
yang sombong menjadi epidemi di masyarakat metropolitan! Mulai
dari orang
miskin hingga para konglomerat. Mulai dari para intelektual hingga preman
pasar. Mulai dari pejabat tinggi hingga pegawai rendahan. Tingkah lakunya sama
saja. Selalu ingin menunjukan apa yang mereka miliki. Tak ada tempat bagi
mereka yang mencoba hidup sederhana dan rendah hati.
Mereka akan digilas oleh gerombolan “Show of
Force” ini. Inilah realitas di Jakarta.

 

Kafir Bukan Berarti Orang Yang Beda Agama

Monday, February 20th, 2006

Sahabat sekalian, sering sekali kita menyebut orang yang
tidak beragama 
Islam sebagai ‘kafir’. Itu yang diajarkan sejak kecil pada
kita. Dan
makna yang tidak tepat ini turun temurun diwariskan
dari generasi ke generasi, pada akhirnya kita menerimanya dengan taken for
granted saja, dan tidak memeriksa lagi kebenarannya.

Seandainya kita mau membuka Al-Qur’an dan mencari definisi
Qur’aniyahnya, maka akan kita temukan bahwa makna kata ‘kafir’ sebenarnya sama
sekali tidak secara langsung terkait dengan perbedaan agama.

Makna ‘Kafir’
Mari kita buka Al-Qur’an. Kita biasakan mencari definisi
qur’aniyah dari
segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian,
kita akan terbiasa
untuk  membuka Al-Qur’an dan pelan-pelan Insya Allah kita
akan merasakan 
Al-Qur’an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita
belajar untuk
memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil
agama yang belum tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk mendebat orang
lain. Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur’aniyyah dari kata kafir, bisa kita temukan di
surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.


Q.S. 18:100, "dan Kami tampakkan Jahannam pada
hari itu kepada
orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas."

Q.S. 18:101, "yaitu orang-orang yang matanya
dalam keadaan tertutup
dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa
Indonesia dengan
kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku,
dan adalah
mereka tidak sanggup mendengar."

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah
dari kata
‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah
mereka yang matanya
tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran
Allah, dan
telinganya tidak sanggup mendengar.

Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut
usia ia menjadi
tuli  atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti
ditakdirkan
akan mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang
kebetulan ditakdirkan
tuli atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan
untuk hidup
sebagai orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya
untuk
dilahirkan sebagai orang buta atau tuli. Apakah Allah
menakdrkannya kafir
karena kebetulan lahir sebagai orang tuli atau buta?

Tentu jawabannya tidak. Jika demikian, betapa jahatnya
Allah. Semua
orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, diberi-Nya
kesempatan untuk
mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.

Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?

Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj
(22) ayat 46.

Q.S. 22:46, "Maka apakah mereka tidak berjalan
di muka bumi, lalu
mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat
memahami atau
mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb
mereka (quluubun) yang ada di dalam dada."

Dari definisi qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’
bukanlah orang yang
berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata
dan telinga di
dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan
‘kufur’ adalah
‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini diserab bahasa
inggris menjadi
‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang
tertutup dari
‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).

Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata
dan telinga
yang adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam
lagi. Mata dan
telinga yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada
dalam qalb kita,
yang ada pada level jiwa (nafs).

Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang dipersatukan
dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), dan Jasad.
Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali disumpah di
hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna,
kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.

Q.S. 7:172, "Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu
mengeluarkan anak-anak Adam

dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap
nafs-nafs
jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: "Bukankah aku ini
Rabb-mu?" Mereka
menjawab, "Betul, kami bersaksi (syahidna)".

Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu,
dan kelak akan
diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada
saat itu jasad

kita terurai menjadi tanah, dan ruh kembali pada-Nya.

Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang
ada dalam dadanya ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih ‘kafir’, atau
tertutup. Ia
tidak akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk
ini turun bukan
ke telinga dan mata jasad kita, tapi ke ‘mata dan telinga’
jiwa (nafs)
dalam qalb kita.

Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat
At-Taghabuun ayat 11:

Q.S. 64:11, ". Dan barangsiapa beriman kepada
Allah, niscaya Dia akan
memberi petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur’an
ditulis: ‘kepada
hatinya’)."

Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum
berfungsi, dia

tidak akan mampu memahami Al-Qur’an dengan
sebenar-benarnya, karena

Al-Qur’an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak.
Sebagaimana yang

dialami Rasulullah, Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya.
Rasulullah
seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa
memahami
Al-Qur’an hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur’an
sesungguhnya ada dalam dada, bukan dalam kepala.

Q.S. 29:49, "Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah
ayat-ayat yang nyata
dalam dada orang-orang yang diberi ilmu."

Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna
‘kafir’. Kata ‘kafir’
bukan berarti mereka yang tidak beragama Islam. ‘Kafir’
adalah mereka
yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi,
sehingga tertutup
dari Al-Haqq (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah).
Dengan demikian,
bahkan saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga
jiwa saya belum
berfungsi dengan baik, belum sempurna dalam melihat
tanda-tanda
kebesaran-Nya, dan belum memahami Al-Qur’an dengan
sempurna.

Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak
kekufuran yang ada
dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk
menyebut orang
lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang
kafir. Hal ini
tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan
justru akan
menambah dosa saja.

Apakah orang yang
tidak beragama Islam semuanya tidak beriman? Belum

tentu.
Kita harus
berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam
Al-Qur’an.

Q.S. 3:199, "Dan sesungguhnya di antara para ahli
kitab ada orang yang
beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada
mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan
ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi
Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat
perhitungannya."

Q.S. 3:113, "Mereka itu tidak sama; di antara ahli
kitab itu ada
golongan yang berlaku lurus,
mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa
waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud."
Q.S.3:114, "Mereka
beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh
kepada yang
ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera
kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh."

Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain
meskipun mudah di
lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak.

Kafir Bukan Status Keagamaan

Makna kata ‘kafir’ ada dalam konteks ketertutupan telinga,
mata dan hati (qalb), dan –bukan– dalam konteks perbedaan agama, sekali
sebagaimana

telah dijelaskan pada tulisan, akan semakin jelas lagi
jika kita
perhatikan ayat qur’an berikut ini:

Q.S. 2 : 6 -7
(2:6) "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi
mereka, kamu beri

peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak
akan beriman."

(2:7) "Allah telah mengunci mati hati/qalb-qalb
(quluubihim) dan
pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan
bagi mereka
siksa yang amat berat."

Jika kita lihat ayat ‘kafir’ di atas, sebenarnya
memperkuat definisi
‘Kafir’  sebagaimana telah tersimpan dalam 18:100 dan
18:101, bahwa 
kekafiran ada dalam pengertian ketertutupan qalb, dan sama
sekali tidak
terkait langsung dengan perbedaan agama. Tentu bukan
kebetulan bahwa dua ayat di atas diletakkan berdampingan.

Hanya sayangnya, dua ayat di atas pun sering secara
sembrono dijadikan
dalil untuk bersikap bermusuhan terhadap saudara kita yang
beragama lain.
Padahal, seandainya kita lebih teliti lagi, kata ‘kafir’
sebenarnya ada
dalam konteks ketertutupan hati, bukan dalam konteks
perbedaan agama. 
‘Kafir’ adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah), bukan status
(keagamaan).

Semoga bermanfaat.

Herry Mardian,
17 Februari 2006.
http://suluk.blogsome.com