Archive for June, 2006

Rumi Tentang Warna Agama

Sunday, June 4th, 2006

Rasul pernah berkata, “Ada orang-orang yang melihatku
di dalam cahaya yang sama seperti aku melihat mereka.
Kami adalah satu.

Walau tak terhubung oleh tali apapun,
walau tak menghafal buku dan kebiasaan,
kami meminum air kehidupan bersama-sama.”

Inilah sebuah kisah
tentang misteri yang tersimpan:

Sekelompok Tiongkok mengajak sekelompok Yunani
bertengkar tentang siapa dari mereka
adalah pelukis yang terhebat.
Lalu raja berkata, “Kita buktikan ini dengan debat.”

Tiongkok memulai perdebatan.
Tapi Yunani hanya diam, mereka tak suka perdebatan.

Tiongkok lalu meminta dua ruangan
untuk membuktikan kehebatan lukisan mereka,
dua ruang yang saling menghadap
terpisah hanya oleh tirai.

Tiongkok meminta pada raja
beberapa ratus warna lagi, dengan segala jenisnya.
Maka setiap pagi, mereka pergi
ke tempat penyimpanan pewarna kain
dan mengambil semua yang ada.

Yunani tidak menggunakan warna,
“warna bukanlah lukisan kami.”
Masuklah mereka ke ruangannya
lalu mulai membersihkan dan menggosok dindingnya.
Setiap hari, setiap saat, mereka membuat
dinding-dindingnya lebih bersih lagi,
seperti bersihnya langit yang terbuka.

Ada sebuah jalan yang membawa semua warna
menjadi ‘warna tak lagi ada’. Ketahuilah,
seindah-indahnya berbagai jenis warna
di awan dan langit, semua berasal dari
sempurnanya kesederhanaan matahari dan bulan.

Tiongkok telah selesai, dan mereka sangat bangga
tambur ditabuh dalam kesenangan
dengan selesainya lukisan agung mereka.
Waktu raja memasuki ruangan, terpana dia
karena keindahan warna dan seluk-beluknya.

Lalu Yunani menarik tirai yang memisahkan ruangan mereka.
Dan tampaklah bayangan lukisan Tiongkok dan semua pelukisnya
berkilauan terpantul pada dindingnya yang kini bagaikan cermin bening,
seakan mereka hidup di dalam dinding itu.
Bahkan lebih indah lagi, karena
tampaknya mereka selalu berubah warna.

Seni lukis Yunani itulah jalan sufi.
Jangan hanya mempelajarinya dari buku.

Mereka membuat cintanya bening, dan lebih bening.
Tanpa hasrat, tanpa amarah. Dalam kebeningan itu
mereka menerima dan memantulkan kembali
lukisan dari setiap potong waktu,
dari dunia ini, dari gemintang, dari tirai penghalang.

Mereka mengambil jalan itu ke dalam dirinya,
sebagaimana mereka melihat
melalui beningnya Cahaya
yang juga sedang melihat mereka semua.

“Chinese Art and Greek Art”


From: Mathnawi, I, 3462-3485, 3499
Adapted from Nicholson’s translation of the Mathnawi, IV, 2683-2696, by Coleman Barks,
Essential Rumi, Maulana Jalalludin Rumi, translated by Coleman Barks. Indonesian translation of this poem by Herry Mardian.(http://suluk.blogsome.com)

Anyway

Sunday, June 4th, 2006
       

People are often unreasonable, illogical and self-centered;
Forgive them anyway.

If you are kind,
people may accuse you of selfish, ulterior motives;
Be kind anyway.

If you are successful,
you will win some false friends and some true enemies;
Succeed anyway.

If you are honest and sincere,
people may deceive you;
Be honest and sincere anyway.

What you spend years creating,
others could destroy overnight;
Create anyway.

If you find serenity and happiness,
some may be jealous;
Be happy anyway.

The good you do today,
people will often forget tomorrow;
Do good anyway.

Give the best you have,
and it might never be enough;
Give your best anyway.

You see, in the final analysis.
it is between you and God;
It is never between you and them anyway.

: : : : : : :

These words were written on the wall in Mother Teresa’s orphanage home for children in Calcutta. The source is unknown.

Diambil dari: http://suluk.blogsome.com