Archive for January, 2007

Proses Penjurian

Thursday, January 4th, 2007

Kasus gugatan penggiat dan kritikus film terhadap dewan juri FFI ( Festival
Film Indonesia) memunculkan pertanyaan dalam benak saya. Mengenai proses
penjurian. Penjurian terhadap kompetisi tertentu.Seperti karya tulis, karya
ilmiah atau Film. Sebenarnya bagaimana membuat kriteria penjurian yang benar? Proses
penjurian seperti apa yang dapat meminilmasir konflik atau ketidak puasan?

Karena, harus diakui, bagaimanapun juri lomba memiliki persfektif yang
sangat subyektif terhadap suatu karya. Dalam benak mereka sebenarnya sudah
tertanam keyakinan tentang suatu karya yang hendak mereka nilai. Bila ada karya
dari peserta lomba yang sesuai dengan persfektif mereka, kecenderungan untuk
memenangkan mereka tentu sangat besar. Dan saya lihat kasus subyektifitas
penilaian terhadap suatu karya sangat besar di Indonesia. Saya tidak tahu,
bagaimana negara yang lebih maju membuat suatu kriteria penjurian. Terhadap
bidang apapun.

Contoh kasus yang mungkin sering saya lihat adalah proses kompetisi menulis
di kalangan wartawan. Hal ini sering dilontarkan
oleh Merry. Karena memang, pada kenyataan, kompetisi tulis-menulis dikalangan
jurnalistik memiliki kecenderungan subyektifitas sangat tinggi. Tulisan yang
menyenangkan vendor atau operator dianggap memiliki kecedenderungan untuk
menang. Walau, beberapa penyelenggara kompetisi, meminimalisir hal ini dengan
menarik fihak luar yang dianggap pakar dalam bidangnya. Seperti yang dilakukan
oleh XL. Namun, tetap saja, keberadaan dewan juri yang dianggap pakar ini
memiliki kecenderungan subyektifitas sangat tinggi. 3 atau 4 orang menjadi
”dewa” yang dapat memutuskan baik atau buruknya suatu karya. Saya bukannya antipati
terhadap proses seperti ini. Tetapi, saya berfikir proses penjurian terhadap
suatu karya yang hanya melibatkan sedikit orang memiliki bias yang sangat
tinggi.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Sepertinya dewan juri harus melibatkan
kerumunan orang yang lebih banyak . Melibatkan lebih banyak orang dari beragam
persfektif. Misalnya 50 orang jurnalis dari beragam media dan 50 orang pembaca menjadi
juri bagi kompetisi menulis antar media. Atau  50 orang sineas/kritikus dan 50 orang penikmat
film menjadi juri FFI. Mungkin itu dapat meminimalisir konflik atau ketidak
puasan. Dan juga meminimalisir bias subyektifitas dalam melakukan penilaian
terhadap suatu karya.